Minggu, 29 September 2013





 



ITIHASA
1.   SANTI PARVA
2.   ASVAMEDHA PARVA

Di Susun Oleh:
1.    Ketut Catur Restu
2.    Nengah Pasek
3.    Ni Dewi Ratih
4.    Ni Kadek Elfrida Putri
 

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU LAMPUNG
Tahun Ajaran 2011-2012




PENDAHULUAN
Mahabharata merupakan salah epos besar India yang telah termasyur di seluruh dunia. Mahabharata merupakan kisah agung yang terdiri dari delapan belas parva, yang mengisahkan tentang wangsa kuru, Pandava dan Kaurava. Di mana Kaurava memenangkan kerajaan Hastinapura dengan cara yang curang yakni melalui permainan dadu. Kecurangan Kaurava tersebut membuat Pandava menderita selama tiga belas tahun.
Melihat penderitaan Pandawa tersebut membuat Krsna yang merupakan Avatara Visnu kedelapan meminta para Dewa untuk terlahir ke dunia manusia guna membantu Pandava menghancurkan kejahatan dan menegakkan Dharma. Sehingga munculah ajaran keabadian Bhagavad Gita dari percakapan antara Krsna dan Arjuna. Yang mana di dalamnya mengandung ajaran yang mengupas tugas dan kewajiban manusia di dunia.
Mahabharata ini di karang oleh Rsi Vyasa, penyusun Veda, putra Maharsi Parasara. Mahabharata bukanlah karangan biasa, namun didalamnya  tersirat catatan pikiran dan jiwa para leluhur kita jaman dahulu yang menginginkan terjaganya kebajikan dalam jaman apapun. Kisah ini juga berisikan pedoman kehidupan yang juga kaya akan filsafat hidup.
Di dalam makalah ini, akan mengulas Mahabharata parva ke-12 dan ke-14 yaitu Santi Parva dan Asvamedha Parva. Santi Parva berisi tentang perang bathin Yudhistira yang merasa menyesal karena telah membunuh saudara dan kerabatnya dalam perang. Kemudian ia mendapat nasihat-nasihat dari Rsi Vyasa dan Krsna, sehingga ia bersemangat kembali untuk melanjutkan pemerintahan. Sedangkan Aswamedha Parva mengisahkan tentang upacara Yadnya yang dilakukan oleh Yudhistira.





Daftar Isi
Halaman Judul…………………………………………………………………………      1
Pendahuluan……………………………………………………………………………     2
Daftar Isi………………………………………………………………………………        3

Bab I
Santi Parwa…………………………………………………………………………….      4
A.    Radheya adalah Putraku……………………………………………………….        4
B.     Kesedihan Yudhistira………………………………………………………….        8
C.     Penobatan Yudhistira…………………………………………………………..       12
D.    Kesimpulan Cerita Santi Parwa…………………………………………………      17
Bab II
Aswamedha Parwa…………………………………………………………………….      18
A.    Aswamedha Pada Jaman Dahulu………………………………………………       18
B.     Aswamedha Yang Dilakukan oleh Yudhistira…………………………………       22
C.     Kesimpulan Cerita Aswamedha Parwa ………………………………………..       24
1. Makna Upacara Aswamedha………………………………………………..        24
2. Tujuan Upacara Aswamedha……………………………………………….         24
3. Upacara Aswamedha Pada Jaman Ini………………………………………        24

Bab III
Nilai-Nilai Yang Terkandung di Dalam Cerita Santi Parwa dan Aswamedha Parwa          28
a.       Nilai Tradisi……………………………………………………………………       28
b.      Nilai Moral……………………………………………………………………..       28
c.       Nilai Kesetiaan ………………………………………………………………..        28
d.      Nilai Kepemimpinan…………………………………………………………...       29
e.       Nilai Yadnya…………………………………………………………………..        29
f.       Nilai Pendidikan……………………………………………………………….       29
g.      Nilai Spiritual…………………………………………………………………..       29







BAB I
SANTI PARWA

A.   Radheya Adalah Putraku
Dhrtarastra menunjuk Vidura, Sanjaya dan Dhaumya untuk mempersiapkan kremasi para pahlawan agung yang telah gugur dimedan perang. Dengan cepat kremasi itu selesai. Yudhistira ditemani dengan Dhrtarastra dan yang lainnya, menuju ke tepi sungai Gangga untuk mempersembahkan air suci pada orang yang telah tiada. Mereka semua ada disana: Gandhar, Kunti, dan Draupadi. Para pria tidak memakai perhiasaan dan busana sutera mereka. Mereka memakai busana yang paling sederhana. Dada mereka yang bidang di tutupi dengan busana yang atas yang tipis. Iring-iringan ini perlahan
            Keadaan Kunti sangat menyedihkan. Tiga hari yang lalunya Radheya dibunuh oleh Arjuna. Terjadi perayaan yang sangat meriah dalam perkemahan Pandava. Ia mendengar hal itu dari sanjaya. Ketika Sanjaya memberi tahu Dhrtarastra mengenai peperangan, tentang kematian Rhadeya, ia mendengarnya. Hatinya dibakar oleh kesedihan. Ia tidak bisa mengatakan hal itu pada siapapun. Ia tidak bisa menceritakan tentang luka hatinya. Ia harus Diam. Hari ini, di medan peperangan, ia melihat putra pertamanya. Ia tidak akan membiarkan diirinya pingsan. Krsna hanya memandang sesaat. Ia memandang Radheya dan ia meliihat istrinya menangisi suaminya. Ia juga melihat semua itu dan masih saja tidak berkata apa-apa. Sekarang, pada akhir semua kejadian ini, ia berjalan bersama mereka semua melihat acara persembahan air suci di tepi sungai suci Gangga. Gangga  yang samalah yang telah anaknya beberapa tahun yang silam. Gangga masih saja mengalir dengan tenang seperti pada hari yang tidak bisa terlupakan ketika ia menghayutkan kotak kayu pada sungai itu. Terlihat seperti baru kemarin. Kunti melihat par pria yang sedang memberikan persembahan terakhir pada orang-orang yang telah mendahului. Radheya tidak memiliki putra yang bisa melakukan upacar itu untuknya. Mereka semua telah tewas. Ia masih saja seorang anak yatim piatu sama seperti pada saat ia membuangnya. Hatinya seakan-akan meledak meledak karena kesedihannya yang sangat mendalam.ia terbakar karena penyesalan diri karena ketidak adilan yang telah ia lakukan pada anaknya itu. Kunti mengangkat bahunya. Ia merapatkan bibirkannya. Ia harus melakukannya. Ia setidaknya harus melakukan ini untuk Radheya. Ia berjalan dengan langkah yang pasti mendekati putranya Yudhisthira.
            Yudhistira baru saja menyelesaikan persembahan itu pada putra-putra Draupadi dan semua yang lainnya. Air mata Arjuna masih Nampak di matanya. Ia baru saja melalukan upacara itu pada Abhimanyu yang sangat ia cintai. Sekarang Kunti akan melakukan sesuatu yang akan membuat pucat pada semau wajah anak-anaknya yang sekarang tanpa ekspresi apa-apa. Ia mendekati Yudhistira dan meletakan tangannya pada punggung Yudhistira. Ia berbalik dan berkata: “Ya Ibu? Ada apa? Mengapa engkau memanggil ku? “ Kunti harus menelan segala kesedihan agar tidak keluar dari bibirnya. Ia berkata: “Masih ada orang yang tersisa. Kau harus membuat persembahan ini untuknya juga, putraku.” Yudhistira memandangnya. Matanya merah karena air mata yang ia tahan. Semua orang yang ada disana diam dan melihat mereka berdua. Saudara-saudara Yudhistira mengelilingi mereka berdua dan berdiri dengan alis yang terangkat untuk menebak siapakah orang yang dimaksudkan itu. Krsna satu-satunya orang yang tahu, berdiri dan melihat Kunti dengan penuh welas asih di matanya. Ia telah menyimpan semua rahasia itu dengan baik. Ia tidak mengatakannya pada saat perang terjadi. Ia tetap diam bahkan pada saat Radheya tewas, karena semua itu pasti akan membuat Yudhistira sedih. Ia akan berhenti  berperang dan kembali ke hutan. Apa yang Kunti lakukan hari ini adlah hal yang benar. Krsna mendengarnya.
            Yudhistira berkata: “ satu orang lagi? Aku tidak mengerti. Aku ingat orang-orang yang telah tewas dengan baik. Pastilah aku tidak akan lupa pada orang yang telah mati untukku! Siapakah orang yang harus mendapatkan persembahan ini?” Kunti berkata:”Radheya lah orangnya. Kau juga harus membuat persembahan ini untuknya”.  Yudhistira tercengang. Ia berkata: ‘Radheya? Tetapi Ibu, mengapa aku harus melakukannya untuk Radheya? Ia adalah seorang  Sutaputra. Upacara pemakaman ini harus dilakukan oleh Ayahnya karena putra-putranya telah mati. Aku adalah seorang ksatriya. Mengapa kau memintaku untuk melakukanya, Ibu? Untuk Radheya, Sutaputra, musuh bebuyutan kami? Mengapa aku harus melakukannya, Ibu? Kataka padaku. Mengapa kau terlihat sangat sedih?” sesaat berlalu. Kunti diam denagn segalakesedihan dihatinya” ia mengambil nafas yang dalam dan berkata: “Yudhis-thira, kau harus melakukanya karena Radheya adalah seorang ksatria dan bukan seorang Sutaputra! Radheya bukan seorang Sutaputra! Semua orang terkejut mendengarnya. Yudhistira:  Tetapi, Ibu, kau tidak tahu apapun tentang Radheya! Bagaimana kau tahu bahwa ia adalah seorang ksatria? Berarti kau tahu siapa dirinya. Mengapa aku harus mempersembahkan air suci pada Radheya? Aku sangat bingung dengan kata-katamu. Katakan pada ku Ibu, siapakah ayah dari Radheya yang agung?” Kunti berkata:  “Radheya adalah putra Surya . Ibu Radheya adalah seorang gadis kecil. Surya memberikan putra ini padanya. Ia terlahir dengan Kavaca dan Kundala. Ibunya takut dengan hinaan dunia.  Kau tahu, bahwa ia adalah seorang gadis yang berada dirumah ayah nya. Ia aharus menyimpan rahasia ini di dalam hatinya. Ia meletakkan anka itu pada kotak kayu dan menghayutkan nya di sungai yang sama : Gangga anak ini di pungut oleh Atiratha dan ia memberikannya pada istrinya Radha. Itulah mengapa ia bernama Radheya, dan itulah nama yang ia cintai. Ia tidak akan pernah menggantinya dengan nama lain. Ibunya adalah seorang ksatria.ia telah melakukan ketidak adilan pada putra pertamanya. Ia memiliki beberapa anak tapi hatinya kosong karena hal ini.
            Yudhistira dan yang lainnya semua mendengarkan cerita ini. Segalanya terlupakan karena mendengarkan kisah yang menkjubkan ini. Yudhistira berkata: “Ibu siapakah Ibu Radheya? Siapaka ibu yang snagat keji yang telah mebuang anknya di sungai Gangga pada saat ia lahir? Siapakah wanita yang telah menghancurkan hidup dari seorang pria yang sangat agung? Kau pasti mengenalnya karena kau menceritakan cerita tentang kejahatan dengan sangat lengkap. Siapakah, Ibu?”
            Semua mata memandangnya. Kunti memandang mereka semua. Ia melihat krisna. Ia memandangnya dengan mata yang penuh dengan belas kasihan kunti memandang  tepat pada mata  Yudhistira dan berkata : “wanita itu masih hidup. Akulah wanita itu. Radheya adalah putraku : putraku yang pertama “. Ia jatuh dan tidak sadarkan diri.
            Vidura segera berlari ke arahnya seperti yang ia lakukan pada saat diadakannya pertunjukan keahlian para pangeran-pangeran ketika ia tidak sadarkan diri karena melihat Radheya. Yudhisthira tidak bisa memikirkan itu semua. Ia berdiri dan memandang mereka semua . ia terus menggumam : “Radheya adalah kakakku dan kami telah membunuhnya!”ia melihat Arjuna. Arjuna segera berlari kearahnya. Ia menangis : “apa yang telah aku lakukan, Tuhan?apa yang telah aku lakukan?bagaimana aku bisa hidup setelah semua yang telah terjadi?aku telah membunuh kakakku! Kakakku, aku telah membunuhnya!’Arjuna tidak mampu berdiri. Ia duduk ditanah dan ia berteriak dengan kata-kata : “aku telah membunuh kakakku dan aku telah berbangga karena aku telah membunuhnya! “ia jatuh dan tidak sadarkan diri. Krsna mendekatinya dan Yudhistira. Kesedihan Yudhistira sangat menakutkan. Ia bergetar seperti orang yang terserang demam. Matanya merah. Bhima duduk di samping Arjuna. Ia juga sangat terkejut. Ia seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba menjadi tua.
            Bhima memikirkan hari pada saat pertunjukan itu berlangsung. Ia ingat saat ketika ia baru saja mengetahui bahwa ia adalah seorang Sutaputra. Bhima telah berkata: “Dengarka aku. Wahai kau Sutaputra. Kau tidak pantas untuk dibunuh oleh Arjuna. Kau tidak pantas memegang busur di tanganmu. Bergegaslah, ambilah cemetimu yang lebih pantas untuk mu”. Bhima kata-kata Duryodhana. Ia telah berkata: “ sedangkan pada pemuda ini , aku kasihan karena kurang pengertiannya. Ie penuh dengan sifat yang ada pada diri seorang kesatria dan hanya seorang satria. Tidakkah kau lihat bahwa seekor harimau tidak akan pernah lahir dari seekor rusa yang lemah? Tidakkah kau bisa merasakan bahwa ia adalah seorang kesatria? Aku telah menjadikan dirinya raja Angga. Tetapi aku tahu ia tidak pantas untuk mendapatkannya. Ia pantas untuk menjadi penguasa dunia. Ia terlahir untuk menjadi orang baik. Kau tidak cukup mampu atau cukup agung hingga kau bisa mengenalinya”. Kata-kata Duryodana membakar pikirannya sekarang. Ya mereka tidak cukup agung untuk menyadari keagungan Radheya. Bhima menangis hingga tubuhnya bergetar. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Yang ada hanya kesedihan dan tidak ada apapun yang lainnya. Nakula memikirkan tentang pertarungannya dengan Radheya : Ia ingat kata-kata Radheya. Ia telah berkata: “Suatu hari kau akan bangga karena kau telah bertarung denganku. Suatu hari kau akan bangga bahwa Radheya telah menghinamu”. Ya, Saat penghinaan itu kini menjadi saat yang paling berharga dalam hidupnya. Tidaklah mungkin bagi Sahadewa untuk melupakan Radheya dan pertarungannya dengannya. Ia ingat cibiran di bibirnya dan tingkah lakunya yang sangat tenang. Pandawa memberikan hormat dengan penuh kesedihan. Kunti disadarkan dengan percikan air dan yang lainnya. Untuk pertama kalinya dalam kehidupannya, Yudhistira tidak memperhatikan Ibunya. Ia tidak bisa melihat wanita yang telah melakukan ketidakadilan ini pada Radheya dan pada Pandawa. Ia pergi dan duduk dengan Arjuna dan Krsna. Yudhistira ingat hari ketika Radheya mati. Ia ingat saat itu. Ia ingat bahwa ia telah memanggilnya Sutaputra”. Yudhistira memalingkan wajahnya pada Ibunya. Ia bertanya padanya:”Apakah Radheya tahu mengenai hal ini, apakah ia tahu siapa dirinya?” “ya” kata Krsna”Apakah kau tahu mengenai hal ini, Krsna?” Tanya Yudhistira. “ ya, ia menjawabnya. Tidak memungkinkan bagi mereka untuk berkata sepatah katapun setelah itu. Radheya tahu bahwa ia bukanlah seorang Sutaputra. Ia tahu bahwa dirinya adalah putra Surya dan Kunti. Dan Ia membiarkan saudaranya menghinanya dengan nama itu. Yudhistira memikul kepalanya dalam kemarahannya itu. Ia berkata: “ Ketika aku mendengar bahwa Radheya telah tewas, aku berlari ke medan perang untuk melihat apakah ia benar-benar tewas. Aku sangat bahagia melihat dirinya tewas. Ibu, bagaimana kau tega melakukan hal ini pada kami, mencintai kami seperti yang kau lakukan?”
            Hanya pada saat itulah Yudhistira melihat wajah ibunya. Ia terlihat sangat sedih. Ia tidak ingin mengucapkan sepatah katapun lagi. Ia sudah cukup menderita. Yudhistira pergi dan berdiri di tepi sungai Gangga. Seakan-akan persembahan air suci itu telah terbayar hanya karena air mata Yudhistira. Kematian Abimanyu dan kematian putra-putra Draupadi terlupakan dalam malapetaka besar yang telah menimpa mereka. Mereka telah membunuh saudara mereka. Itulah satu-satunya pikiran yang ada di benak mereka saat Pandawa pergi dari sungai Gangga. Iring-iringan itu kembali ke kota kerajaan. Gandhari, Kunti dan Draupadi berbagi kesedihan yang sama, mereka telah kehilangan anak-anaknya, mereka berjalan beberapa langkang iring-iringan itu.
B.   Kesedihan Yudhistira

Mereka harus pergi dari kota kerajaan selama satu bulan, dan mereka tidak dapat kembali ke kota kerajaan selama proses pemakaman selesai dilaksanakan, mereka semua tinggal dirumah-rumah sementara yang dibangun ditepi sungai gangga, Vyasa Narada berbicara padanya. Ia berkata “mengapa engkau sangat sedih? Dengan berkat Krsna dan bantuan saudara-saudaramu yang pemberani dan juga Pancala, kau sekarang menjadi penguasa dunia. Tahun-tahun penderitaamu kini telah berakhir, aku merasa sangat bahagia dan mengucapkan selamat atas keberhasilanmu.
Kesedihan Yudhisthira muncul ia berkata “Tuanku aku tidak ditakdirkan untuk hidup bahagia semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik kami semua hilang karena kami telah diberitahukan bahwa Radheya adalah saudara kami, mengapa kau biarkan semua ini terjadi? Ibuku mengatakan bahwa ia pernah bertemu denganya di medan perang, ia memintanya untuk bersamanya dan juga dengan saudara-saudaranya, tetapi ia tidak mau dan Krsna bertanya padanya dan ia berkata ia tidak akan mengecewakan sahabat dan majikanya Dhuryodhana, dengan bergantung pada Radheya ia telah memulai peperangan, tidak setia pada raja dan tidak menjalankan kewajiban adalah sifat yang sangat bertentangan dengan sifat saudara kami. Ia sangat bingung dan menderita ketika mengetahui bahwa Pandawa adalah sanak saudaranya, tetapi ia tidak akan pernah menyimpang terhadap kewajiban yang harus ia lakukan, Yudhistira berkata ia adalah orang yang sangat baik dan kami telah membunuhnya, betapa menyedihkanya takdir ini, guru yang telah memisahkan kami, ia tau bahwa kami adalah saudaranya dan ia tidak ingin kami tahu tentang hal ini.

Aku ingat  hari dimana pada saat aku berada di Hastinapura Draupadi yang dihina oleh mereka semua terutama oleh Radheya. Aku sangat marah padanya, aku sangat malu dan terhina, aku memalingkan mataku padanya, aku tidak dapat memandangnya namun ketika ku lihat kakinya, semua amarah ku hilang begitu saja, kami sangat penasaran dengan semua kesamaan ini, selama bertahun-tahun aku mencoba untuk memecahkan masalah ini, dan lagi-lagi aku mencoba untuk memecahkan masalah ini namun tak dapat ku selesaikan permasalahan ini. Bagaimana bisa  kaki Radheya Sutaputra itu mirip  dengan kaki Ibunya?  Guru ketika aku ketahui sekarang mengapa kakinya mirip dengan kaki ibuku, hatiku hancur berkeping-keping, bagaimana bisa hati ini bahagia ketika kami mengetahui bahwa kami telah membunuh seseorang yang agung seperti dirinya, Radheya yang seharusnya menjadi Raja kerajaan kuru, kini aku tidak bisa menghibur diri lagi.

Ibuku mengatakan ia memberikan anugrah yang ia inginkan dan ia mengatakan bahwa tidak akan membunuh Pandawa yang manapun terkecuali Arjuna karena ia harus bertarung dengan Arjuna, itulah jalan satu-satunya untuk membahagiakan hati Duryodhana,  kini baru aku sadari mengapa ia tidak membunuh Bhima ketika Jayadratha kalah, ia mengampuni Bhima tanpa membunuhnya. Tetapi ia harus menghinanya, malam itu ia bertarung dengan Sahadeva, hari berikutnya Nakula. Pada hari terakhir hidupnya, ia bertarung denganku  kami dibiarkan hidup, ia tidak membunuh kami karena ia tidak mau melakukannya, betapa baik dan mulia saudara yang kami miliki, dan Arjuna telah membunuhnya ketika ia tidak siap untuk bertarung! Aku tidak bisa mengampuni diriku karena kebiadapan ini, kami telah menjadi orang yang paling jahat yang telah bertempur dalam perang ini.

Naradha menenangkan hatinya. Ia berkata bahwa Radheya tidak mungkin dibunuh oleh siapapun, hal ini di karenakan dua Brahmana dan campur  tangan kehidupan Radheya dengan lengkap dengan semua tragedi yang di alaminya. Ini cerita tentang yang mulia yang menyucikan meraka yang cukup beruntung mengenalnya, hal ini membuat pandawa semakin sedih, ceritra ini membuat mereka rendah hati, hal ini membuat mereka menyadari bahwa jalan Tuhan sangat misterius tetapi kesedihan tidaklah pernah meninggalkan hatinya, ini adalah luka baru yang tidak akan pernah dapat disembuhkan.

Yudhistira tidak pernah dapat memamaafkan ibunya karena ke tidak adilanya yang telah ia lakukan pada Radheya dan juga pada mereka semua, ia mengutuk semua wanita. Ia berkata bahwa sejak saat itu wanita tidak akan mampu menyimpan rahasia ini karena Kunti telah menyimpan rahasia itu dengan baik yang membuat malapetaka ini terjadi, tidak ada cara untuk menenangkan hati para pandawa.

Yudhistira tak sedikitpun berminat lagi pada kerajaan yang kini telah ia menangkan yang mana telah begitu banyak penderitaan dan tetesan darah yang telah tertumpah, Ia hampir ingin meninggalkan segalanya dan kembali kehutan dan sangatlah sulit menyakinkan dirinya bahwa itu adalah sebuah perbuatan yang salah. Ia akan duduk dan menyesali kematian semua orang yang telah terbunuh dalam medan perang. Ia menyalahkan dirinya atas segala yang terjadi sekarang. Bima, Arjuna, Nakula, Sahadeva, Draupadi, semuanya berusaha untuk meyakinkanya bahwa tindakanya ini salah, bahwa ia tidak boleh begitu sedih, tetapi itu semua tidak ada tujuanya mereka sangat kecewa dan Yudhistira sangat sedih, Vyasa, Narada dan yang lainya membuatnya menyadari bahwa tindakannya ini sangatlah salah, dengan perlahan, Yudhistira mulai menyadari dan berusaha membuang semua kesedihanya namun tidaklah mudah bagi Vyasa dan Narada untuk mengubah pendirian raja Yudhistira tetapi akhirnya Yudhistira menyadari akan tugasnya sebagai seorang raja ia diajarkan bahwa seorang pria yang  telah menjadi raja tidaklah patut tenggelam dalam kesedihan yang dapat merugikan dirinya sendiri karena bagi rakyat, raja adalah Dewa. Merupakan tugas seorang raja untuk mengatur rakyatnya dengan baik. Seorang raja tidak memiliki kehidupan sendiri karena ia haruslah hidup demi rakyatnya ia harus menjadi ayah dan juga ibu bagi rakyatnya.
Dan Yudhistira mulai menyadari semua ini dan ia berkata “kini pikiranku tidak bingung lagi,  tuanku.  Aku telah melewati lembah hitam dan telah keluar dengan sinar matahari yang cerah. Ajarilah aku tentang pedoman yang harus diikuti oleh seorang Raja, semuanya ku serahkan padamu untuk membimbingku guna menuju jalan yang benar karena aku telah memikul beban yang sangatlah besar, aku harus mengetahui semua yang berhubungan dengan pemerintah kerajaan, aku ingin melakukan ini dengan para leluhurku ajarilah aku wahai Guru yang agung, Vyasa tersenyum dengan bahagia dan berkata “Yudhisthira aku sangat bahagia karena dirimu ingin sekali mengetahui semua yang berkaitan dengan pemerintahan kerajaan, hal ini patut dipuji, tetapi kau bertanya pada orang yang salah, aku adalah orang yang tidak pernah memerintah, aku adalah orang yang tidak tau menahu tentang memerintah sebuah kerajaan dibumi, aku tidak mengerti apa-apa mengenai hal ini, aku memintamu untuk bertanya pada kakekmu ia adalah orang yang paling mengetahui tentang hal ini, Gangga ketika ia membawanya bersamanya ingin agar ia menjadi orang yang tepat dengan perang yang akan ia mainkan raja dari dinasti bulan, ia seharusnya meneruskan tahta setelah santanu ia diajari tentang ilmu politik oleh Brhaspati tidaklah ada orang yang menyamai Devavrata dalam hal ini, ia sangat cocok untuk memainkan peran yang tidak pernah bisa ia mainkan terima kasih oleh ke egoisan ayahnya, ia tidaklah pernah memiliki kesempatan untuk mengatakan pada siapapun mengenai hal ini, Devarata telah hidup disurga sebelum ia hidup dibumi, ia telah ditemui oleh para Dewa aku akan menceritakan padamu mengenai keagungan kakekmu.
“Brhaspati adalah guru dalam bidang ilmu politik. Gangga, kesayangan para Dewa, adalah ibunya. Mereka bersusah payah membuat putra Gangga sangat menguasai apa yang seorang raja  harus ketahui. Sukra, guru para dewa dan para asura, mengajarinya pedoman tingkah laku, Bhargava adalah gurunya dalam bidang perpanahan Veda Vedangga telah diajarkan padanya oleh Vasistha sedangkan tentang mengucapkan mantra Markandeyalah yang telah mengajarinya,Devavrata tahu semua rahasia dibalik selubung kematian, akan menjadi keberuntungan bagimu untuk mendengar Bhisma yang agung yang membahas mengenai semua ini, ia akan sangat bahagia memberitahumu, tidak ada yang akan menyenangkan seorang guru selain seorang murid yang ingin tau dan rendah hati, pergilah sekarang temuilah manusia yang agung itu dan bertanyalah padanya, pergilah kepada Bhisma yang telah menghabiskan hari-harinya diranjang kematian. Yudhisthira berkata ‘Tuanku, bagaimana aku bisa pergi dan berdiri dihadapan orang yang agung ini? Akulah yang menjadi penyebab kehancuran dari sepupu-sepupuku. Setelah melakukan dosa yang seperti itu, bagaimana aku bisa memiliki keberanian untuk menemuinya, Krsna berkata : “janganlah terlalu sensitif dengan apa yang telah terjadi wahai Yudhisthira, semua orang sudah tau bahwa takdirlah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi dan bukanlah dirimu, pergilah dan temuilah Bhisma : dengarkan kata-kata Vyasa ini demi kebaikan kerajaan yang akan kau pimpin selama bertahun-tahun, Bhisma adalah orang yang baik, ia tau tentang masa depan Kaurawa janganlah meragukan tentang hal ini lagi, dengarkan kata-kata Vyasa”. Menerima nasehat mereka semua Yudhisthira memutuskan untuk menemui kakeknya untuk mengetahui tentang bagaimana cara untuk memerintah kerajaan.

C.   Penobatan Yudhistira
Kepergianya selama sebulan dari kerajaan kini telah berlalu, dan kini mereka bisa kembali ke Hastinapura lagi. Pikiran raja diraja Yudhisthira telah damai kembali, beliau sangat tidak bahagia dengan semua yang telah terjadi, siang malam bersama Rsi yang telah memberikannya Santi, kedamaian itu sendiri, sesuatu yang telah ia rindukan selama bertahun-tahun ini dan ia sekaranag dapat menghargai nilai hal-hal tertentu yang sebenarnya. Kekalutan pikirannya telah terobati dan ia bahagia.

Seseorang yang peka seperti Yudhisthira ini tidak dapat memenangkan hatinya untuk memerintah kerajaan yang telah ia menangkan setelah menyebrangi lautan darah yaitu darah sepupu-sepupunya darah adik-adik paman dan yang sangat menyedihkan yaitu darah kekek yang mana telah merawat dan membimbingnya sejak ia berusia balita, dan akhirnya setelah ditenangkan oleh para Rsi ia menyadari kedudukanya yang sebenarnya dan ia sekarang bahagia dan siap untuk mengemban tugas sebagai penguasa, Yudhistira ingin agar ia dapat menjalankan perannya sebagai seorang raja saran dari Rsi Vyasa telah memberikannya sebuah ide dan ia berangkat ke Hastinapura.
Mereka berangkat ke kota Kerajaan dengan Raja Dhrtarastra yang memimpin mereka memulai perjalanan mereka ke kota, Proses ini sangatlah mengagumkan mereka sampai ke kota kerajaan dengan sangat cepat, orang-orang melihat raja baru Yudhistira didalam kereta yang ditarik oleh enam belas banteng putih.  Bhima memegang tali kekang ditangannya, Arjuna disisi sang raja ini adalah pemandangan yang sangat menabjubkan orang-orang mempunyai kesempatan untuk menghilangkan kesedihan mereka, sebulan telah berlalu mereka sangat gembira menyambut kedatangan sang raja di Hastinapura, dalam kereta yang mengikuti raja Yudhistira duduklah Yuyutsu putra sang Dhrtarasta satu-satunya yang masih hidup, kereta ini diikuti oleh kereta krsna yang bersama dengan Satyaki, para wanita kerajaan diusung dengan tandu oleh para pengusung tandu, Terjadi arak-arakan kuda-kuda-kuda, gajah-gajah dan para prajurit, ini adalah hari kebahagiaan bagi semua orang.
Yudhistira diikuti oleh Dhrstarasta dan diikuti oleh yang lainnya memasuki sabha yang besar, sabha raja-raja kuru, ia diberikan penghormatan oleh semua rakyat dan para Brahmana yang membacakan mantra-mantra dan yang memberkati para pandava, Krsna dan Yudhistira maju menuju singgasana, Krsna mendudukanya pada singgasana paurava yang sangat termasyur maka Krsna bercucuran air mata, kini janjinya sang Krsna telah terwujudkan, karena dulu ia telah bersumpah akan mendudukan Yudhistira pada singgasana itu, dan kini ia telah berhasil melaksanakan tugas yang sangat berat itu, kursi yang bertahtakan permata diletakkan menghadap singgasana.  Satyaki dan Krsna duduk Bhima dan Arjuna duduk disamping sang raja ditempat duduk yang terbuat dari gading, duduklah Nakula dan Sahadeva dan Devi Kunti pun duduk bersama Sahadeva, putra kesayanganya mereka duduk bersama, tempat duduk yang tersendiri juga disiapkan bagi Dhrtarastra dan Gandhari Vidura dan Yuyutsu duduk disampinya.
Raja telah dinobatkan alat-alat musik mengalunkan musik yang sangat indah, para Brahmana membacakan Veda ini adalah saat yang membuat hari menjadi terharu, perwakilan dari kota kerajaan menghadap pada sang raja dan mengucapkan selamat datang, Yudhistira terlihat bagaikan bulan diantara bintang-bintang ia menjawab dengan suara yang sangat lembut dan kemudian ia berkata “Aku merasa sangat dihormati oleh semua rakyatku aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang raja yang baik, Aku berharap bahwa pamanku akan tetap menjadi raja seperti yang telah ia laksanakan selama ini, ia adalah ayah kami, ia adalah ayah dari kerajaan ini, aku hanya akan menjadi pelayan dan aku akan berusaha untuk membantunya untuk memerintah kerajaan ini, semua saudaraku akan menolongku”, Yudhistira membubarkan semua rakyat yang berkumpul di tempat itu setelah menyampaikan hormatnya kepada mereka.
Yudhistira menobatkan Bhima sebagai Yuvaraja : pewaris tahta, Vidura ditunjuk sebagai seorang menteri, ia bertanggung jawab mengurus pertahanan kerajaan, ia juga penasehat pribadi sang raja, Sanjaya ditunjuk sebagai penanggung jawab keuangan kerajaan, Nakula bertanggung jawab atas seluruh pasukan kerajaan, Arjuna adalah komandan pasukan ia bertanggung jawab atas hubungan antara Hastinapura dengan kerajaan-kerajaan lainnya, ia harus mempertahankan kerajaan dari serangan kerajaan-kerajaan lain,  Dhaumya tetap menjadi pendeta kerajaan. Sahadeva adalah pengawal pribadi sang raja ia harus selalu bersama dengan sang raja, Yuyutsu diminta untuk mengatur beberapa provinsi dan juga memenuhi keinginan raja tua Dhrtarastra, Krsna sangat bangga dengan kecakapan sang raja.

Upacara pemakaman yang terakhir bagi para pahlawan yang telah mendahului mereka di lakukan dengan besar-besaran, setelah semua proses pemakaman selesai, Yudhistira datang menemui Krsna dan berdiri dihadapanya dengan tangan tercakup, ia berkata  “Tuanku, Kau telah memberikan kembali kerajaanku, demi aku kau telah melakukan tugas yang berat, dalam kasihmu padaku, Kau sebagai Jiwa Abadi, Kau adalah Dewa dari segala Dewa, dan kau menyamar menjadi manusia dan dipengaruhi oleh kesenangan dan kesedihan yang telah memberikan kami masalah, dengan kami dirimu telah menangis dan bersama kami kau telah tersenyum, kau telah menunjukan ke pada kami jalan kebenaran dan kau telah menjadi pembimbing kami, aku tidak tau apa yang harus aku katakan, Hatiku penuh dengan emosi, aku selalu mengikuti nesehatmu, aku bersujud dikakimu dan membasuh kakimu dengan air mataku, Hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membalas semau yang engkau lakukan untuk kamu,” Krsna menyuruh Yudhistira berdiri ia berbicara dengan lembut dan manis padanya dan pada semua saudaranya.
Hari berikutnya, pada pagi harinya, Yudhistira datang menemui Krsna ia menemuinya sedang merenung dan berpikir keras dan sang rajapun berkata “aku berpikir apa yang membuatmu berpikir keras seperti itu Krsna? Krsna berkata “Aku berpikir tentang Kakekmu Bhisma, Hidupnya hanya tinggal beberapa hari lagi didunia ini, Kau ingin sekali belajar darinya, aku ingin menemuinya, Aku memintamu untuk menemaniku, itulah alasan renunganku tadi,”  Yudhistira berkata “kami akan melakukan saranmu,” Krsna memandang satyaki dan berkata “Satyaki mintalah kepada Daruka untuk mempersiapkan keretaku, kau juga ikut bersiap-siap, kita akan pergi ke medan perang dimana sepupu Kuru Bhisma sedang berbaring diranjang panahnya,”
Kereta Krsna sudah siap Duruka datang dan memberitahukan itu pada Krsna,semuanya berangkat kemedan perang, dengan beberapa kereta perang mereka berangkat kemedan perang, mereka meninggalkan kereta perang dan berjalan kaki kehadapan Bhisma yang agung, ia terlihat seperti matahari yang telah terbenam, Krsna mendekati Bhisma dan berbicara pada Bhisma, ia sangat sedih melihat Bhisma yang sangat menderita, ia duduk disampingnya dan berkata dengan lembut, “bagaimana keadaanmu tuanku? Kekuatan bertahan dari kematian tidak diberikan padaku, Kekuatan dari keinginanmu sangatlah mengagumkan, jika saja ujung jarum menusuk ku, aku tidak dapat menahan rasa sakitnya, bagaimana kau dapat menahan rasa sakit dari ribuan panah yang panah-panah yang tertancap ditubuhmu? Tidak ada seorangpun yang seperti dirimu didunia ini, kau adalah gudang pengetahuan kau telah menjadi murid Brhraspati, Sukra, Vasistha dan Markandea, kau adalah gudang kebijaksanaan, kau adalah salah satu dari Vasu yang termasyur, kau adalah orang yang paling agung yang pernah memberkahi Dunia Manusia.  Kau harus menenangkan Yudhisthira yang bersedih karena ia dalah penyebab kematian sepupu-sepupunya, ia telah ditenangkan oleh Vyasa sendiri, dan ia ingin memerintah kerajaan seperti yang dilakaukan oleh para leluhurnya, kau harus mengajarkan semua yang ngkau ketahuai, Kua harus membuatnya menghilangkan semua kesedihan ini dan memerintah kerajaan dengan baik, hanya kau satu-satunya orang yang dapat membantunya,”
Bhisma mendengar kata-kata Krsna,  ia mengankat kepalanya dan memandang Krsna.  Sebuah senyuman nampak disudut bibirnya, ia berkata” Tuanku, Kau adalah Jiwa abadi dan meresap diseluruh jagat raya, dirimu adalah sumber dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan, katakanlah padaku apa yang harus aku lakaukan, aku tidak tau berapa lama lagi aku akan bertahan hidup, aku sudah tidak mengingat waktu lagi. Aku telah melunaskan hutangku pada Satyawati, aku menunggu kereta matahari memutar arahnya dan menujukeutara, aku ingin kau memberitahukanku kapan akau bisa melihat Visvarupa, Aku tidak sabar lagi untuk melihat Wujudmu Tuanku”  Krsna berkata “Bhisma kau memiliki waktu enam puluh lima hari lagi untuk hidup didunia ini, aku akan ada disampingmu ketika kau melepaskan diri dari ikatan ini dan menuju ketempat asalmu, Ketika kau pergi maka semua pengetahuan yang mendalam ini akan pergi beramamu dan tidak ada seorangpun yang mampu mendapatkanya, aku ingin dirimu berbicara pada Yudhisthira mengenai semua yang kau ketahuai, kau bisa melakiukanya”
Bhisma berkata,”Krsna kau mencoba untuk mentertawai aku, kata-katamu penuh dengan cinta tetapi ketika kau berada disini bagaimana mungkin aku bisa membicarakan tentang Dharma dan tingkah laku yang baik pada Yudhisthira? Jika kau sendiri bisa bicara, tidak kakan sopan, Akan seperti seorang siswa yang mencoba menjelaskan sesuatu diahdapan Gurunya, semua itu tidak benar, Tuanku” Krsna tersenyum dan berkata “ kau sangat rendah hati, kau selalu merendahkan dirimu, tetapi aku ingin kau berbicara pada Yudhisthira,”  Bhisma berkata “ Krsna aku sangalah lemah karena Luka-uka ini, rasa sakit ini sudah tidak dapat kutahan lagi, ingatanku sudah tidak tajam lagi kau memintaku untuk mengingat sesuatu yang kupelajari ketika aku berada disurga bersama ibuku, aku rasa aku tidak memiliki rasa untuk menjelaskan tugas yang kau limpahkan padaku”  Krsna berkata “ Aku akan memberikanmu sebuah anugrah, rasa sakit dan lemahnya tubuhmu akan hilang sampai ajal menjemputmu, ingatanmu akan cemerlang kembali penglihatanmu akan tajam kembali seperti mata pedang, kau akan mampu menguraikan simpul misteri jagat raya, kau akan mengetahui semua yang harus diketahuai,” Surga menebarkan bunga kepada Bhisma dan Krsna ketika ia mengucapkan kata-kata ini, Krsna bangkit setelah memberikan salam kepada Bhisma. Ia berpamitan padanya dengan mengatakan “Kami akan kembali besok”
Malam berlalu dengan tenang bagi mereka semua, Krsna tidur tanpa mimpi setelah hari-hari yang sangat panjang dan melelahkan ini,  dan saat pagi tiba ia mengusut Satyaki untuk menemui Yudhisthira, Satyaki menghadap sang Raja dan berkata”Krsna siap untuk menemui Bhisma yang agung” saat itu juga yudhisthira dan saudara-saudaranya berangkat kemedan perang, ditemui oleh Krsna dan Satyaki, Mereka segera menuju kehadapan Bhisma.  Ia sekarang nampak sangat agung seperti mentari pagi yang bersinar, Krsna duduk disampingnya dan menanyakan keadaanya, Bhisma berkata “ Krsna, aku tidak merasakan sakit lagi setelah kau memberikan anugrah iti, aku merasa sangat sehat, aku sangat bahagia tetapi Krsna, aku ingin bertanya kepadamu, mengapa kau memintaku untuk membrikan ceramah tentang Dharma seorang Ksatriya? Ku ingin mengetahui alsan untuk semua ini”
Krsna tersenyum dengan lembut dan berkata “ Kau benar, aku bisa memberitahukan tentang semuanya, tetapi aku telah memutuskan untuk membuatmu tersnyum untuk selamanya, aku ingin dunia mengenangmu untuk selamanya, mulai sekarang orang-orang dibumi ini akan menganggap kata-katamu itu sebagai kata-kata suci yang sama dengan weda. Setiap tindakan manusia dimasa depan akan menyesuaikan dengan aturan yang engkau terapkan, seorang akan dikatakan masih hidup didunia sepanjang ia masih termasyur. Aku ingin kau hidup selamanya, untuk itulah aku ingin membicarakan hal itu”
Air mata Bhisma mengalait perlahan tanpa isakan yang terdengar, ia tida bisa berkata-kata, Cinta Krsna kepadanya terlalu rahasia untuk dibicarakan, ia menenangkan hatinya dan berkata “Katakan pada Yudhisthira untuk memintaku untuk mengatakan apa yang ia inginkan, aku siap untuk menjawab pertanyaanya karena ia berpikir bahwa ia adalah penyebab kehancuran dari semua kesatriya dan semua sepupu-sepupunya” Bhisma tersenyum dengan lembut dan memanggil Yudhisthira untuk mendekat kepadanya, ia meletakan tanganya di kepala dan berkata “Anakku, Tugas kesatriya adalah untuk bertarung dan untuk membunuh, kau harus membunuh kau telah menjadi Ksatriya sejati, Kau tidak boleh bersedih karena telah melaksanakan tugasmu kemarilah, Krsna mengatakan padaku kau sangat bingung karena banyaknya keraguan yang kau miliki tentang pedoman tingkah laku, aku mendengar bahwa kau ingin mepelajari seni memerintah kerajaan dengan baik, aku akan memberitahumu segalanya, Anakku, semua hal ini diajarkan oleh para Guruku yang ahli, dan aku akan melimpahkan pengetahuan itu dengan berkah Tuhan yang mau turun kebumi dengan nama Krsna”  

D.Kesimpulan Cerita Santi Parwa
          Santi berarti damai, kedamaian, perdamaian. Damai atau Santi dalam cerita Santi Parwa ini memiliki makna Pemikiran atau perasaan damai yang dirasakan oleh Yudhistira setelah ia mendapat pencerahan dan naihat-nasihat dari para Rsi. Sebelum mendapat pencerahan dari para Rsi, Yudhistira selalu diliputi rasa bersalah karena telah membunuh saudara, guru, sahabat bahkan kakeknya sendiri dalam perang, lebih-lebih setelah ia mengetahui bahwa Radheya adalah saudaranya yang mati dibunuh oleh Arjuna saat perang. Rasa berdosa itu selalu meliputi pikiran Yudhistira dan membuatnya tidak berminat lagi terhadap kerajaan. Disinilah peran Maha Rsi Narada, Vyasa dan yang lainnya yang mampu mendamaikan hati Yudhistira melaui nasihat-nasihat yang beliau berikan. Maka bersemangatlah Yudhistira melaksanakan kewajibannya untuk menjadi Raja sekaligus Dewa bagi rakyatnya.
Kesimpulan dari isi cerita Santi Parwa adalah mengenai konflik batin yang dialami oleh Yudhistira. Setelah berhasil membunuh Radheya, Yudhistira beserta saudaranya yang lain baru mengetahui bahwa ternyata Radheya adalah saudaranya. Hal tersebut membuat penyesalan yang begitu mendalam bagi Yudhistira. Cukup lama rasa bersalah itu dirasakan oleh Yudhistira, bahkan ia enggan melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai raja Hastinapura. Namun setelah ia mendapat pencerahan dan nasihat dari Krsna beserta Rsi Vyasa, barulah ia mendapatkan Santi (Kedamaian), Sehingga ia menyadari apa yang seharusnya ia lakukan.





BAB II
Aswa Medha parwa
Setelah Raja Dhritashtra menuangkan cairan kurban ke dalam air untuk menyucikan arwah Bhisma, Yudhistira yang pada saat itu berada di belakang Dhritarashtra, ambruk dan tergelincir ke dalam sungai Ganga dan segera Bhima terjun untuk menyelamatkan kakaknya. Yudhistira merasa sangat sedih dan selalu meratapi kematian Bhisma dan saudara-saudaranya yang lain. Ia merasa bahwa dirinya sangat berdosa. Kemudian Dhristarashtra menyarankan kepada Yudhistira untuk melanjutkan pemerintahan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pahlawan besar.
Yudhistira pun merasa lebih tenang. Selanjutnya Kesawa menghiburnya dengan berkata sebagai berikut “ janganlah berlarut-larut dalam kesedihan, karena hal itu hanya akan membuat arwah leluhur menjadi sengsara. Bangkitlah dan lakukan upacara-upacara persembahan kepada leluhur serta pembagian hadiah kepada para Brahmana”. Yudhistira pun menjawab dengan mengatakan bahwa ia tidak akan merasa damai karena ia telah membunuh kakek dan saudara-saudaranya. Ia ingin menebusnya dengan melakukan pertapaan. Ucapan Yudhistira tersebut ditentang oleh rsi vyasa, sang Rsi mengatakan bahwa Yudhistira telah dikuasai oleh ego dan seorang kesatriya hidup dari peperangan serta lakukan hal-hal yang menjadi kewajiban seorang raja. Rsi Vyasa juga menyarankan kepada Yudhistira untuk melakukan upacara Aswa Medha untuk membersihkan diri dari dosa-dosa. Namun Karena pembendaharaan di istana sedang kosong, karena telah habis digunakan untuk pembiayaan perang, membuat Yudhistira bingung mencari dana untuk melaksanakan yadna tersebut.Iapun lalu meminta petunjuk kepada rsi Vyasa.
Rsi vyasa terdiam sejenak, kemudian beliau beliau berkata bahwa perbendaharaan akan terisi penuh karena di atas gunung Himalaya terdapat cukup banyak emas yang telah dibengkalaikan oleh para Brahmana ketika pelaksanaan yadna terdahulu.
A.   Aswa Medha Parwa pada Jaman Dahulu
Yadna tersebut dilakukan oleh raja Marutta, beliau adalah raja yang bijaksana, adil dan dicintai oleh rakyatnya. Beliau juga di anggap sebagai Visnu yang kedua karena kekuatannya setara dengan 10.000 ekor kuda. Ayah Beliau adalah raja Karandhama. Raja karandhama adalah raja yang yang sangat perkasa bagai dewa indra, sabar bagai Indra dan kuat bagai Surya.
Sebelum yadna tersebut berlangsung, Raja Marutta telah memerintahkan seluruh pande besi kerajaan untuk membuat beribu-ribu buah tempayan dan piala emas.
Sejak jaman dahulu kala, putra-putra Prajapathi Daksha yaitu para asura dan para Dewa sudah saling bermusuhan. Demikian pula putra-putra Angirasa yaitu Wrishapathi dan Samwartta. Angirasa merupakan pendeta keluarga raja karandhama. Karena samwartta selalu disusahkan oleh kakaknya, Ia pun pergi bertapa ke dalam hutan dengan bertelanjang bulat. Sedangkan Wrspatthi di angkat menjadi pemimpin di daerah takhlukan Wasawa ( Indra), dan Wasawa sendiri telah menguasai Surga. Wrspatti pun kini menjadi pendeta keluarga raja Marutta. Raja Marutta sungguh gagah perkasa, kekuatannya maha dasyat menyaingi Wasawa sendiri. Baginda ini selamanya tidak pernah mengakui kekuasaan Wasawa dan demikian pula Wasasa tidak mau mengakui kekuasaan Marutta.
Karena merasa tersaingi, Wasawa pun membujuk wrspatthi untuk pergi meninggalkan raja Marutta dan pergi untuk menjadi pendeta para Dewata di Surga. Atas bujukan Wasawa, rsi Wrspatti pun menyetujuinya.
Mendengar hal tersebut, Raja Marutta pun menjadi geram di buatnya. Kemudian Ia memikirkan bagaimana caranya untuk mengundang sang Rsi. Terpikirlah oleh beliau untuk mengadakan upacara kurban. Baginda pun pergi manghadap sang Rsi dan menyampaikan niatnya untuk melakukan upacara kurban. Tidak berfikir terlalu lama, Wrihaspati menjawab sebagai berikut “ O Maharaja dunia, saya tidak mungkin lagi menyelenggarakan upacara itu, saya sudah di titahkan oleh Maha Raja Dewata Indra agar menjadi pendeta para indra saja. Dan saya sudah melakukan perjanjian agar tetap demikian”.
Marutta menyembah lalu berkata: “ Wahai pendeta mulia, sejak jaman dahulu paduka adalah pendeta keluarga hamba. Karena hal itu bukankah hamba mempunyai hak untuk di bantu dalam setiap pelaksanaan upacara?
Wrishapatti menjawab: “ Setelah saya O Marutta menjadi pendeta bagi para Dewa yang bersifat kekal betapa mungkin lagi saya menjadi pendeta bagi golongan manusia yang tidak kekal?
Jawaban Rsi Wrihaspati tersebut membuat Raja Marutta sedih dan terpukul karena telah di permalukan. Baginda berjalan kembali. Dalam perjalanan pulang, Raja berjumpa dengan Narada. Narada melihat raja Marutta sedang duduk di atas keretanya yang berjalan dengan lesu. Narada berhenti dan menegur Maharaja sambil mencakupkan tangan. Narada menanyakan apa yang telah dialami oleh sang raja sehingga Ia tampak bermuram durja. Raja menceritakan semua hal yang telah terjadi kepada narada.
“Hamba telah di tolak mentah-mentah sebagaimana layaknya orang yang penuh dosa.”
Narada tercengang mendengar ucapan Maharaja Marutta yang malang itu. Narada memberitahukan Raja Marutta bahwa ada satu orang lagi putra Angirasa yang mampu memimpin upacara kurban itu, Ia adalah Samwarta. Samwarta merupkan seorang pertapa yang aneh karena Ia bertapa dengan bertelanjang bulat. Saat ini Samwarta sedang berada di kota Varanasi. Untuk mengetahui Samwarta, raja harus meletakkan mayat di samping pintu masuk kota Varanasi. Orang yang terlihat takut dan tergesa-gesa menjauhi mayat, itulah Samwarta dan raja harus mengikutinya. Apabila Samwarta bertanya siapa yang telah memberitahukan rahasia ini, Raja harus menjawab bahwa yang memberitahukan rahasia ini adalah Narada yang saat ini telah menceburkan diri ke dalam api karena telah membongkar rahasia ini.
Maharaja Marutta pun melaksanakan saran yang diberikan oleh Narada. Raja Marutta akhirnya bertemu dengan Samwarta.Raja Marutta menyampaikan segala maksud dan tujuannya mengikuti Samwarta. Raja telah meminta bantuan kakak Samwarta yaitu Wrihaspati untuk menjadi pemimpin upacara tersebut, akan tetapi Wrihaspati lebih memilih menjadi pendeta para Dewa.
Samwarta akhirnya berjanji akan melakukan hal yang terbaik dalam pelaksanaan upacara Yadna tersebut. Akan tetapi, Raja Marutta harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh Samwarta. Syarat yang pertama adalah Raja tidak akan pernah mundur apapun yang akan terjdi nanti, karena sudah barang tentu Wrihaspati akan sangat marah apabila Samwarta yang memimpin upacara kurban tersebut. Jika Raja Marutta melanggar janji tersebut, maka Raja beserta keturunannya akan dimusnahkan oleh Samwarta dengan mata apinya. Syarat yang kedua adalah raja Marutta harus pergi menuju ke puncak manjaban di pegunungan Himalaya, karena di sana terdapat tambang emas yang sangat besar. Emas tersebut merupakan milik Dewa Kuwera. Emas-emas tersebut di jaga oleh banyak para Dewa, sehingga untuk menyenangkan hati para Dewa, Raja Marutta harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada para Dewa. Dan apabila para Dewa berkenan, maka Raja Marutta akan dikaruniakan emas. Raja Marutta pun berhasil melunakkan hati para Dewa dan segala persiapan upacarapun telah dapat dirampungkan.
Mendengar keberhasilan Raja Marutta telah berhasil mempersiapkan upacara yang megah itu dan Samwarta yang memimpin upacara tersebut, membuat Wrihasati menjadi murung dan pucat karena ia berfikir bahwa wrihaspati jauh lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan dirinya. Karena melihat Wrihaspati bermuram durja, Wasawa pun menanyakan apakah gerangan yang telah membuat pendeta Dewata tersebut menjadi sangat kurus dan muram. Wrihaspati menceritakan semua hal yang telah mengganggu pikirannya.
Setelah mendengarkan apa sebenarnya yang menjadi pikiran Wrihaspati, Indra lalu memerintahkan Agni untuk pergi menghadap Maharaja Marutta dengan mengatakan bahwa Wrihaspati sendiri yang akan menyelenggarakan upacara tersebut dan raja akan menjadi kekal. Pergilah Agni menuju istana Raja Marutta dan mengatakan apa yang telah di utuskan oleh Indra. Semua bujuk rayu dikeluarkan oleh Agni dan membuat Samwarta menjadi marah dan mengancam akan memusnahkan Agni dengan sinar matanya. Mendengar ancaman Samwarta itu, tubuh Agni menjadi gemetar ketakutan dan ia segera melesat kembali kehadapan para Dewa di Alam Surga serta menceritakan pengalamannya tersebut.
Mendengar ucapan Agni tersebut, kemudian Indra mengutus seorang gandarwa untuk menghadap raja Marutta. Gandarwa tersebut berkata bahwa Raja Marutta harus menerima Wrihaspati sebagai pemimpin upacara tersebut, dan apabila menolaknya, maka Indra akan menyerang Marutta dengan menghujani Marutta dengan petir-petir yang maha dasyat. Mendengar kata-kata gandarwa tersebut, Marutta kemudian berunding dengan Samwarta. Samwarta berjanji akan melindungi pelaksanaan upacara tersebut. Dan di luar telah tampak gulungan awan hitam yang menandakan bahwa Indra bersama dengan iringannya sedang menuju tempat tersebut. Mereka semua di sambut dengan baik oleh raja Marutta menghidangkan air soma. Kemudian samwarta mendesak Indra agar sudi menyelenggarakan bagian upacara yang khusus diperuntukkan kepada  para Dewa. Sehingga para Dewa lainnya mengetahui bahwa Indralah yang telah mengantarkan bagian upacara Dewa yajna tersebut.
Karena terus didesak, maka Indra lalu memerintahkan para Dewa untuk mendirikan bangsal pertemuan dilengkapi dengan ribuan kamar-kamar yang sangat indah bagaikan lukisan serta persiapan-persiapan lainnya. Setelah Indra dan para Dewa lainnya selesai membuat persiapan, Indra lalu berkata kepada raja Marutta “O Raja dengan bekerja sama dalam melakukan upacara ini pastilah para leluhur anda dan juga para Dewa sekalian merasa puas dan menerima dengan senang kurban tuangan yang paduka suguhkan. Dan sekarang biarlah manusia utama ini mempersembahkan sapi jantan berbulu merah untuk disuguhkan kepada Dewa Agni dan seekor sapi sapi jantan berbulu biru dan sudah disucikan dipersembahkan kepada para Visvadewa.
Pada tahap upacara terakhir Samwarta melangkah menuju altar tempat pemujaan dan dengan wajah dan tubuh memancarkan sinar gemilang lalu berseru kepada para Dewa memuji-muji mereka. Dan terakhir para Dewa menerima suguhan tuangan minyak mentega murni yang dicurahkan kedalam api suci sambil membaca doa-doa suci. Demikianlah upacara kurban tersebut berjalan dengan meriah.
Setelah para Dewa semuanya kembali ke surga, raja Marutta lalu mengumpulkan beronggok-oggok emas dan ditempatkan di tempat-tempat tertenju juga membagi-bagikanya kepada Brahmana. Saat itu Raja yang bersemarak ini bagikan Kuwera yang kaya raya. Dengan perasaan riang dan gembira raja mengisi kas kerajaan dengan luar biasa. Setelah menyembah dan mohon diri kapada Brahmana Samwarta, raja Marutta pun kembali ke ibu kota kerajaan dan selamanya menguasai dunia. Raja Marutta itu sudah memerintah dengan kebaikan yang tidak ada bandingannya demikian juga kekayaannya.
B.     Upacara Aswa Medha yang Dilakukan Yudhistira
            Yudhistira sangat senang mendengar cerita Rsi Vyasa yang bijaksana, Bhima pun merasa sangat senang karena merasakan bahwa saudaranya itu bersemangat dengan sesuatu. Sedangkan bagi Arjuna, ia sangat terharu memikirkan bahwa ia akan bertarung sekali lagi. Ia menawarkan diri untuk berkeliling dunia untuk memimpin kuda-kuda persembahan dan menakhlukkan semua raja yang berani menentangnya. Pandawa mengirimkan pesan pada Krsna bahwa mereka akan pergi menuju Himalaya dengan tujuan mengmpulkan harta karun para Marutta yang rahasia dan sang raja akan melaksanakan Aswamedha sesuai dengan saran Rsi Vyasa. Kerajaan diserahkan pada Yuyutsu dan Pandawa pergi ke Himalaya untuk mengumpulkan harta karun para Marutta dan memulai perjalanan mereka.
            Semua anggota keluarga Vrsni telah sampai di Hastinapura sebelum Pandawa tiba dari utara. Mereka semua sengaja datang lebih awal karena Uttara akan segera melahirkan putra dari Abimanyu yaitu cucu dari Arjuna. Hari yang agung telah tiba, Uttara telah melahirkan seorang anak yang tidak bernyawa. Dengan segera Krsna bersama satyaki menemui Uttara di peraduannya. Krsna telah berjanji akan memberikan hidupnya agar tidak terbakar oleh Brahmasirsastra.
            Di sana, telah tampak Kunti menangis dan memohon kepada Krsna untuk menghidupkan kembali putra Abimanyu tersebut. Krsna kemudian melihat anak kecil yang telah tidak bernyawa tersebut. Wajah Krsna menjadi tegang, lalu ia mengambil anak kecil itu dengan tangannya kemudian mengeluskan tangannya yang mulia disekujur tubuh anak itu. Dengan sentuhan tangan yang diberkahi, anak itu telah hidup kembali.
Hal itu telah menguras kekuatannya, karena ia terlihat sangat lelah, lalu ia memusatkan pikirannya pada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan kekuatannya kembali. Sebulan telah berlalu, anak abimanyu diberi nama Pariksit.
            Yudhistira dan rombongan telah kembali ke Hastinapura, mereka memasuki kota dengan penuh semangat. Vyasa datang dan persiapan dimulai untuk acara Aswamedha. Raja sangat senang melihat putra Abhimanyu yang telah lahir. Yudhistira datang menemui Krsna dan memohon padanya agar melaksanakan upacara Aswamedha ini, namus Krsna mengatakan bahwa yang sepantasnya melakukan upacara ini adalah Yudhistira yang sebagai raja dan keturunan dinasti Bulan.
            Arjuna diutus keempat penjuru arah dengan kuda persembahan. Ia pergi keempat penjuru arah dan menakhlukan mereka semua dengan begitu mudah dan memungut upeti dari mereka. Ia mengundang semua raja untuk mengikuti Aswamedha yaga dan kembali ke Hastinapura dengan kuda putih persembahan itu.
            Bhima dan Nakula bersama denga Sahadewa bertanggung jawab untuk semua acara itu. Kemudian dimulailah semua persiapan untuk yaga itu. Semua ini seperti raja suya yang agung yang  telah dilakukan oleh Yudhistita bertahun-tahun yang silam. Pandawa dan Krsna dengan para pahlawan dari istana Vrsni ada di sana tetapi semua raja lain yang datang adalah anak-anak atau keponakan-keponakan dari raja yang telah menghadiri raja suya dahulu. Aswamedha yaga telah berakhir semua raja telah kembali ke kerajaan mereka setelah mereka memmberikan penghormatan pada Yudhistira, Krsna bersama balarama dan Satyaki dan pahlawan Vrsni yang lain kembali ke Dvaraka.
 Hal yang pertama dilakukan yudhistira adalah mengajak saudaranya untuk pergi mengumpulkan harta yang terdapat di negeri Marutha, sebelum berangkat di lakukan pemujaan terhadap dewa- dewa yang patut di puja untuk mendapatkan harta tersebut. Semua proses pengambilan harta tersebut melalui proses upacara. Setelah sampai di negeri Marutha, para brahmana menyarankan agar raja Yudhistira berpuasa agar upacara berjalan lancar, setelah semua upacara selesai, Yudhistira memerintahkan untuk menggali tempat itu dan dari galian itu di angkut banyak sekali benda-benda dan perhiasan dari emas. Setelah barang-barang itu di ambil seluruhnya,sekali lagi raja yang di pimpin oleh pendeta utama melakukan pemujaan kehadapan siva, kemudian raja beserta rombongan kembali ke Hastina, mendengar bahwa para pandawa telah kembali ,maka  seluruh pembesar kerajaan menyambut mereka dengan sangat meriah.
Semua orang mulai sibuk mempersiapkan segala seswatu untuk kepentingan penyelenggaraan upacara Aswamdha itu.
Upacara penyucian paduka itu akan di selenggarakan pada hari purnama bulan chaitra.Para brahmana yang memahami tentang kuda, memeilih kuda terbaik agar upacara berjalan dengan sempurna. Setelah kuda tersebut di lepaskan agar mengembara di atas bumi sebagai mana yang di tentukan oleh kitab suci, namun kuda tersebut harus di awasi dan di jaga maka di utuslah Arjuna berhadapan dengan anak cucu Trigatra yang sudah lama saling bermarahan, Mereka pun siaga mengenakan pakaian perang bersenjata lengkap dan mengepung Arjuna. Terjadi pertempuran yang sangat dasyat di antara mereka, namun pada akhirnya pasukan Trigatra mnyerahkan diri dan memohon ampun kepada Arjuna.
Kuda yang di lepaskan itu melanjutkan pengembaraanya ke wilayah pragjyotisha,dikerajaan itu putra Bhagavadatta yang terkenal gemar berperang berhasil menangkap kuda kurban itu,maka terjadilah pertempuran hebat yang berlangsung berhari-hari. Namun pada akhirnya raja muda tersebut memohon ampun kepada Arjuna dengan tubuh yang bergetar ketakutan, melihat hal tersebut lalu putra Pandu berkata “jangan lah engkau takut karena raja yudhistira yang agung telah berpesan kepada aku untuk menundukan penghalang-penghalang tanpa membunuhnya dan undanglah mereka agar menghadiri upacara kurban kuda yang di selenggarakan oleh yudhistira.
Kerajaan demi kerajaan telah berhasil ditundukkan oleh Arjuna dan akhirnya kuda itu telah menempuh jalan yang menuju ke hastina kembali. Mendengar hal tersebut membuat raja Yudhistira amat sangat bahagia kemudian Yudhistira menyuruh Bhima menyusun dan mengatur tempat upacara. Banyak sekali bangunan besar dan kecil didirikan dilengkapi dengan jalan-jalan yang tinggi dan lebar. Setelah semuanya sudah siap, bhimasena atas perintah Yudhistira mengirimkan surat undangan resmi kepada semua raja-raja di dunia. Akhirnya pada hari yang sudah ditentukan para ahli melaporkan bahwa segala-galanya siap tingggal menunggu pelaksanaan upacara itu saja. Para undangan disambut dengan sangat ramah, mereka   dihidangkan dengan makanan-makanan yang sangat banyak dan lezat serta diberikan semua fasilitas. Bhimasena telah menjalakan perintah raja untuk membagi-bagi makanan tanpa henti-hentinya Semua orang yang di tugaskan dalam upacara tersebut tak seorang pun yang tidak memahami veda. Pada saat pengurbanan itu semua binatang dan hewan kurban ditempatkan pada tiang yang sudah dibangun semua akan dipersembahkan pada para dewa-dewa tertentu. Dalam upacara ini telah dikorbankan 300 jenis binatang, termasuk kuda-kuda dari jenis yang utama. Puncak upacara tersebut sangat mengagumkan indah dipandang dan dijaga oleh para Rsi bagaikan mahluk-mahluk dari alam surga dengan para gandarwa menyanyikan bersama apsara menari-nari.semua hewan kurban sudah disembelih dan dagingnya di olah menurut aturan kitab suci. Kemudian kuda hitam yang telah mengembara keseluruh dunia disembelih dan Draupadi didudukkan disebelah daging kuda karena hanya dia yang menguasai mantra-mantra, sarana serta ketaatan memuja yang diperlukan. Upacara ditutup dengan membagi-bagikan emas permata sebanyak 1000 scror khas emas dan khusus pertapa Vyasa,Yudhistira menghadiahkan seluruh dunia yang berhasil di dunianya.Yudhistira menutup upacara tersebut dengan penyucian diri yang terakhir dan terbebaslah ia dari segala bentuk dosa.
Pada waktu upacara itu baru saja ditutup dan Yudhistira menerima hujan bunga karena perbuatanya,tiba-tiba muncul binatang sejenis rubah yang berbulu keemasan, tersebut dapat berbicara selayaknya manusia. Rubah itu berkata bahwa upacara  korban binatang yang dilaksanakan oleh Yudhistira sungguh tidak ada artinya jika dibandingkan dengan sebutirpun  tepung gandum yang dilaksanakan/dikorbankan oleh seorang brahmana yang darmawan di kurukshetra yang sedang melaksanakan sumpah unccha.
Brahman tersebut hidup bersama istri ,seorang putra dan seorang putri menantu. Sumpah unccha adalah sumpah untuk menjalani hidup bagai burung merpati yang makan dari gandum yang dipungut setelah yang punya ladang selesai memetik gandumnya. Pada suatu musim yang sangat amat panas hingga tidak ada makanan yang tersisa, namun brahmana dan keluarganya berusaha memungut sisa-sisa panen sehingga terkumpulah satu prasta gandum. Setelah memasaknya,lalu brahmana menuangkan api suci dan dibagilah prasta bubur gandum tersebut secara rata kepada seluruh anggota keluarganya yang masing-masing mendapat 1 kundawa. Bersama itu datanglah seorang pertapa yang sedang kelaparan karena telah berjalan jauh.Brahmana pertapa tersebut disambut dengan makanan yang berhasil dikumpulkan oleh keluarga brahmana tersebut, setiap anggota keluarga memberikan sebagian makananya secara iklas kepada yang pertapa brahmana tersebut. Pertapa itu menerima suguhan dari brahmana dengan wajah berseri-seri tanda puas dan gembira sebenarnya pertapa tersebut tidak lain adalah Sang Hyang Dharma sendiri yang telah turun menjadi seorang brahma kelaparan. Ia merasa sangat puas dan berkata, “oh pendeta utama sungguh aku sangat puas dengan penyambutan iklas yang telah anda lakukan, Anda telah menyuguhkan pada diriku sesuatu,yang suci serta diperoleh dengan kejujuran. Inilah namanya persembahan yang dilakukan sesuai dengan praturan kebenaran.”
   Persembahan itu sekarang sudah mulai berubah di alam sorga, pertapa sucipun berkata ”saksikanlah pendeta bunga-bunga sudah mulai berjatuhan bagaikan hujan dari langit! Para penghuni sorga memuji-muji anda, mereka semua menjenguk keluar untuk melihat wajah anda, brahmana utama. Berangkatlah sekarang juga kedalam sorga. Selain itu, para pitri semuanya sudah di selamatkan pula untuk selama-lamanya, ini semua berkat kehidupan brahmacarya yang sudah anda lakukan dengan sangat tekun, serta pengorbanan dan tapa brata yang anda lakukan dengan penuh keiklasan dan cinta kasih. lebih-lebih yang anda lakukan pada musim yang sukar seperti ini. Karena itu,orang yang dapat menundukan perasaan laparnya akan menguasai alam surga.
Brahmana dengan mempersembahkan suatu prastha tepung gandum ini,maka pahala dan berkah yang anda terima akan jauh lebih besar dari menyelenggarakan berkali-kali upacara rajasuya ditambah hadiah atau sedekah yang berlimpah seperti yang dilakukan dalam upacara kurban kuda, wahai brahmana, dikaulah yang pertama diantara semua brahmana sekarang dan Akulah yang patut memuja paduka.
Brahmana, hamba ini adalah Sang Hyang Dharma, prastasi yang paduka ciptakan, hari ini akan dikenal di seluruh alam semesta untuk selama-lamnya. Setelah Sang Hyang Dharma mengucapkan kata-kata tersebut, Brahmana dan keluarganya berangkat ke alam luhur dan abadi. Brahmana dengan itu, hamba keluar dari dalam lubang dan ke pala hamba berubah menjadi keemasan setelah hamba mencium bau tepung gandum dan terkena uap air persembahan kepada tamunya tersebut.
Sejak saat itu, hamba berkeliling dunia untuk mengunjungi upacara besar yang di selenggarakan dengan tujuan agar tubuh hamba berwarana keemasan seluruhnya. Namun dari sekian upacara besar yang telah terselenggara termasuk upacara Asvamedha ini, belum dapat merubah tubuh hamba berwarna keemasan seluruhnya. Hal itu menandakan belum ada satupun upacara kurban yang sebanding dengan persembahan satu prastha tepung gandum tersebut”. Setelah mengucapkan kata-kata tersebut,rubah itu pun lenyap dari pandangan setelah itu, Rsi waisampayana juga berpesan bahwa,yang lebih utama dilakukan adalah tidak menyakiti mahluk lain, puas dan bersyukur ,bertingkah laku baik dan taat, jujur, pengendalian diri itu lah semua yang lebih mulia dari pada melakukan upacara.
Setelah itu ada satu hal lagi yang di lakukan oleh raja janamajaya kepada rsi vaisampayana yaitu; “Bagaimanakah kita dapat meyakinkan diri bahwa upacara menghasilan berkah yang di cita-citakan itu?”
Rsi menjawab dengan menceritakan bahwa pada jaman dahulu, Rsi Agastya ingin mengadakan upacara diksa yang akan dilaksanakan selama 12 tahun. banyak sekali pertapa-pertapa yang akan menghadiri pesta tersebut. Namun masalah terbesarnya adalah dewa indra tidak menurunkan hujannya selama 12 tahun. Tentu saja hal ini menyulitkan Rsi Agastya untuk menngumpulkan makanan guna kepentingan upacara. Kemudian atas diskusi kepada para pertapa, Rsi Agastya memutuskan untuk melakukan upacara dalam bentuk yang lain,yaitu melakukan upacara dengan melatih pikiran. Karena sesungguhnya,upacara melatih pikiran itulah yang sesuai dengan hukum kekekalan, hamba akan melakukan upacara sentuhan karena upacara itupun sesuai dengan kekekalan. Satu hal yang paling penting yang dikatan oleh Rsi Agastya yaitu” sesungguhnya hamba sudah mempersiapkan diri lama sebelumnya, ada tidaknya hujan bukanlah menjadi masalah bagi hamba, jika Indra tidak memandang upacara ini, maka hamba akan menjadikan diri hamba sebagai Indra sendiri yang akan menunjang seluruh penghidupan serta mampu menciptakan jenis-jenis mahluk  dan tumbuh-tumbuhan, semua kekayaan dari ke-3 dunia akan datang ke tempat ini,dan Hang Hyang Dharma akan turun menyaksikan upacara ini.
Tak lama kemudian setelah yang di ucapkan oleh Rsi Agastya benar-benar menjadi kenyataan. Karena sebenarnya Rsi Agastya memiliki semangat yang berkobar-kobar bagaikan api yang membakar angkasa dan tenaganya sungguh luar biasa.upacara pun dapat dilaksanakan dengan baik. Kemudian setelah mendengarkan cerita tersebut, raja Janamajaya bertanya tentang satu hal “siapakah sesungguhnya rubah yang berbulu emas tersebut?”
Kemudian Rsi Waisampayana menceritakan siapa sesungguhnya rubah tersebut,pada jaman dahulu Rsi jamadagni hendaknya mengaturkan susu kepada para pitri yang sangat ia muliakan, akan tetapi, Sang Hyang Dharma ingin menguji kesabaran Rsi Jamadagni dengan masuk menyelinap kedalam susu yang akan dipersembahkan dalam wujud kemarahan ,hingga tumpahlah susu tersebut. Namun Rsi jamadagni tidak marah sedikitpun, kemudian ‘’marah’’ berubah menjadi wanita cantik dan mencoba  menggoda Rsi Jamadagni, namun sang rsi tidak tergoyahkan sambil berkata-kata berikut ‘’aku tidak benci kepada dirimu tetapi susu yang kutampung ini sebenarnya akan ku persembahkan kepada para pitri yang sangat ku muliakan. Sekarang pergilah kesana dan dapatkan pendapat mereka dengan kejadian ini.”  Kemudian ia pergi kehadapan para pitri dan dikutuklah ia menjadi seekor rubah , kutukan ini akan terbebas apabila kau selalu mengucapkan kebenaran dalam setiap upacara terutama dihadapan dharma  sendiri dengan mencelanya ialah yang datang dengan mencela upacara besar yang dilakukan oleh Yudhistira. karena yudhistira merupakan dharma sendiri, maka pada saat itu juga marah terbebas dari kutukanya,dan lenyaplah ia dari pemandangan.

C.    Kesimpulan Cerita Aswamedha Parwa
1.     Makna atau Arti Upacara Asva Medha
Asvamedha berasal dari kata berasal dari kata “Asva” yang berarti kuda dan “Medha” berarti korban atau persembahan. Jadi Asva medha berarti korban atau persembahan kuda. Pada jaman kerajaan terdahulu, upacara asvamedha ini dilakukan dengan tujuan untuk memperluas wilayah kekuasaan, atau menyatukan suatu wilayah di bawah peerintahan kerajaan yang bersangkutan tersebut. Biasanya upacara ini di mulai dengan penyebaran sejumlah kuda keseluruh penjuru dunia, sampai dimana kuda tersebut berhenti, maka sejauh itulah kekuasaan raja terhadap suatu wilayahnya.

2.       Tujuan Upacara Asva Medha
Yudhistira merasa bahwa dirinya sangat berdosa karena telah membunuh saudara-saudaranya dalam peperangan. Karena rasa berdosanya itu, rsi Vyasa menyarankan Yudhistira untuk melakukan jalan pembersihan diri dari dosa-dosa.  Jalan-jalan itu antara lain adalah dengan melakukan tapa brata dan berpantang serta melakukan upacara kurban yang didukung dengan membagi-bagikan dana punia.  Oleh karena itu, sudah tidak diragukan lagi bahwa upacara-upacara itu, khusunya upacara Asva medha akan dapat menyucikan raja-raja yang berdosa.

3.     Upacara Aswa Medha pada Jaman Sekarang (Penerapan di masyarakat)
 Upacara Aswa Medha Parwa bisa diartikan sebagai upacara Dana Punia di jaman sekarang ini. Dana Punia berasal dari kata “dana” dan “punia” yang memilki pengertian yang sama yaitu pemberian atau sumbangan.perbedaanya terletak pada (subyek) dan obyek (penerima) dana adalah pemberian dari pihak yang lebih tua kepada yang lebih muda atau dari pihak yang kedudukannnya lebih tinggi kepada sederajat atau yang lebih rendah. Sedangkan punia adalah pemberian dari pihak yang lebih muda kepada pihak yang lebih tua atau dari pihak yang kedudukannya lebih rendah kepada yang lebih tinggi (para Brahmana). Dana tidak semata-mata sebagai balas jasa ataupun bujukan , melainkan karena kewajiban yang dilakukan dengan rasa tulus ikhlas. Besarnya dana yang harus diikhlaskan itu sudah di atur dalam kitab suci “Sarasamuscaya, Sloka 262 “ :
Ekenamcena dharmathah
Kartavyo bhutimicchata
Ekenamcena kamartha
Ekamamcam vivirddhayet
Artinya :
Bahwa penghasilan yang diperoleh itu hendaknya beerdasarkan Dharma, kemudian di bagi menjadi 3 bagian yaitu : Bagian kesatu untuk Dharma, Bagian kedua untuk dinikmati, bagian ketiga untuk disimpan atau dijadikan usaha.
Ajaran Agama Hindu pada umumnya membagi Dharma itu menjadi enam bagian, yaitu: sila, dana, tapa, Vrata, Yoga, dan Samadhi. Keenam perbuatan yang termasuk Dharma inilah, memerlukan dana yang besarnya sepertiga kali penghasilan. Karena sepertiga dari penghasilan digunakan untuk Dharma, sedangkan Dharma itu terdiri dari enam bagian, maka penghasilan yang kita danakan besarnya seper delapan belas dar penghasilan atau 5%. Pada jaman kali yuga ini, karma wasana harus dilakukan adalah berdana punia yang diatur dalam kitab “ parasara dharma sastra,1.23”yaitu :


Tapah param krta yuge
Tretayam jnananucyate
Dwapare yanjamitya
Curddhanam ekam kalau yuge
Artinya; Melaksanakan penebusan dosa yang sangat ketat dilakukan orang pada kerta yuga, mempelajari ilmu pengetahuan (jnana) yang diutamakan orang pada treata yuga , melaksanakan upacara yadnya yang diutamakan orang pada dwapara yuga dan berdaana (daanam) yang diutamakan orang pada kali yuga .
Dalam  kitab suci tadi juga disebutkan bahwa “ berdaana”bukansemata pemberian berupa uang saja , melainkan dapat berupa :
1.             Abhaya daana yaitu menyelamatkan atau memberi perlindungan kepada sesema dan makhluk lain .contohnya , menolong sesama ,seperti memberi pertolongan kepada orang sakit . menolong makhluk lain yang ada di lingkungan kita ,dengan tidak menebangi tumbuh tumbuhandan membunuh binatang secara membabi buta ,tidak mengeruk bukit dan menimbun pantai seenaknya .kalau ini  dapat dilakukan , maka alampun akan lestari .kalau alam sudah lestari ,mak aka nada hujan sehingga ,makhluk hidup , akan ada makanan , akan ada karma , dan akhirna aka n ada  persembahan sebagai wujud bhakti kita kehadapan hyang widhi.
2      Brahma daana , yaitu mengamalkan ilmu pengetahuan suci  kepada orang lain  contohnya :mengamalkan ilmu pengetahuan agama  di lingkungan keluarga ,di sekolah , dan pasraman . tetapi ,kenyatan nya di masyrakat , sangat sedikit sekali umat  hindu mau belajar agama.
3.       Artha Dana, yaitu memberikan harta benda sebagai amal kepada suatu lembaga atau kepada orang lain yang memerlukan. Contoh ; Rsi yadna kepada pandita atau pinandita, menjadi orang tua asuh, berdana untuk mendirikan dan pembinaan pasraman. Mengingat sekarang ini, umat masih banyak berdhana hanya pada pembangunan tempat suci dan upacara saja.
4.       Ati Dana, yaitu merelakan suami istri, atau anak mengabdi demi agama, contohnya : Dharma Yatra yang dilakukan leluhur kita seperti Mpu Kuturan, sekitar tahun 1001, beliau datang dari Jawa ke Bali untuk mengadakan pembinaan kepada masyarakat bali.
5.       Mahati Dana yaitu dana yang berasal dari bagian tubuh kita, seperti membantu orang lain yang memerlukan darah, melalui donor darah, donor mata dan lain-ain.
Nilai agama yang dapat di ambil dari upacara aswamedha adalah mengenai dana punia seperti raja Marutta yang mempersembahkan emas kepada para Brahmana.

BAB III
Nilai-Nilai yang Terkandung didalam Cerita Santi Parwa dan Aswamedha Parwa
1.      Nilai Tradisi
Yaitu suatu kebiasaan yang masih diturunkan hingga sekarang. Kebiasaan ini adalah upacara bagi orang yang telah meninggal harus dilakukan oleh keluarga, kerabat atau keturunannnya, yang bertujuan untuk membantu sang atman agar mencapai tempat yang baik di alam niskala. Hal ini terlihat saat Kunti meminta Yudhistira untuk membuatkan upacara kremasi yaitu persembahan air suci kepada Radheya, karena putra Radheya  telah mati dalam perang. Sehingga Kunti dan putra-putranya yang lainlah yang wajib mempersembahkan upacara kremasi untuk Radheya.
2.      Nilai Moral
Nilai Moral ini dapat kita lihat, ketika Kunti menghanyutkan Karna di Sungai Ganga karena Ia merasa malu melahirkan anak tanpa melaui perkawinan. Tindakan Kunti tersebut tentu saja merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Ia telah mengucapkan mantra tanpa mengetahui apa fungsi dari mantra tersebut. Yang akhirnya membuat Karna memiliki masa depan yang suram akibat di asuh oleh orang yang tidak baik.
3.        Nilai Kesetiaan (satya)
a.       Satya Mitra
Satya Mitra yaitu setia kepada teman. Sikap ini dimiliki oleh Radheya. Walaupun Radheya telah mengetahui bahwa Kunti adalah ibunya dan Pandawa adalah saudaranya serta bahkan Kunti telah membujuknya untuk tinggal bersamanya, namun ia menolak ajakan Kunti karena ia tidak ingin mengecewakan teman dan majikannya, yaitu Duryodhana.
b.      Satya Laksana
Sikap setia ini juga dimiliki oleh Radheya. Walaupun Ia merasa sedih sekaligus senang mendengar bahwa pandawa adalah saudaranya, namun Ia tetap melaksakan tugas dan kewajibannya dengan sebagaimana mestinya.
c.       Satya Wacana
Sebelum dibunuh oleh Arjuna, Radheya pernah mengatakan bahwa ia tak akan membunuh Pandawa kecuali Arjuna. Saat terjadi selisih paham dengan Bhima, Nakula dan Sahadewa, Radheya tidak bertempur dengannya, tetapi hanya menghinanya. Hal ini dilakukan karena Radheya ingin menyenangkan hati temannya Duryodana. Dan Radheya benar-benar menepati segala ucapannya.
d.      Satya Hrdaya
Sifat ini dimiliki oleh Raja Marutta yang tetap pada pendirian dan kata hatinya dalam pelaksanaan upacara Aswamedha yang dilakukannya. Walaupun Ia sempat dijanjikan keabadian oleh Indra apabila Ia mengganti Samwarta dengan Wrspati sebagai pemimpin Yadnya besar tersebut, Raja Marutta tidak tergoyahkan.
e.       Satya Semaya
Sifat ini juga dimiliki oleh Raja Marutta yang setia dengan janjinya kepada Samwarta, yaitu: Ia tidak akan tergoyahkan, apapun yang akan terjadi selanjutnya. Karena tentu saja Indra dan Wrspati akan berusaha menggagalkan pelaksanaan upacara tersebut.
Yang kedua, Ia harus melakukan pertapan di puncak pegunungan Himalaya guna mendapatkan emas sebagai prasarana dalam melengkapi upacara. Dan Raja Marutta berhasil memenuhi janjinya tersebut.
4.      Nilai kepemimpinan
Sifat ini dimiliki oleh Yudhistira, Setelah Ia mendapatkan pencerahan dari Rsi Vyasa, Ia baru menyadari bahwa tugasnya sebagai seorang raja tidak berhak untuk tenggelam dalam urusan pribadinya. Karena bagi Rakyat, Raja adalah Dewa dan begitu juga sebaliknya.
Selain itu, sifat ini juga ditunjukkan oleh Yudhistira saat ia berhasil menunjuk pejabat kerajaan sesuai dengan sifat dan kemampuan yang dimilki oleh masing-masing pejabatnya tersebut.
5.      Nilai Yadnya (Upacara)
Dapat kita lihat ketika Para Pandawa mengadakan upacara kremasi atau persembahan air suci di tepi sungai Ganga untuk para pahlawan yang gugur dalam perang. Nilai Upacara ini juga dapat dilihat saat Raja Marutta dan Yudhistira mengadakan upacara Yadnya yang begitu besar yaitu upacara Aswameda yang dapat di samakan dengan dana punia dijaman sekarang ini.
6.        Nilai Pendidikan
Hal ini dapat dilihat dari hal-hal yang sepatutnya dilaksakan sesuai dengan tingkatan masing-masing jaman. Yaitu Melaksanakan penebusan dosa yang sangat ketat dilakukan orang pada kerta yuga, mempelajari ilmu pengetahuan (jnana) yang diutamakan orang pada treata yuga , melaksanakan upacara yadnya yang diutamakan orang pada dwapara yuga dan berdaana (daanam) yang diutamakan orang pada kali yuga .
7.      Nilai Spiritual
Pemakaian binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai sarana upacara Yadnya telah disebutkan dalam “Manawa Dharmasastra V.40”; Tumbuh-tumbuhan dan binatang yang digunakan sebagai sarana upacara Yadnya itu akan meningkat kualitasnya dalam penjelmaan berikutnya. Manusia yang memberikan kesempatan kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan tersebut juga akan mendapatkan pahala yang utama. Karena setiap perbuatan yang membuat orang lain termasuk sarwa prani meningkat kualitasnya adalah perbuatan yang sangat mulia. Perbuatan itu akan membawa orang melangkah semakin dekat dengan Tuhan. Karena itu penggunaan binatang sebagai sarana pokok upacara banten caru bertujuan untuk meningkatkan sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan menuju sifat-sifat kemanusiaan terus meningkat menuju kesifat-sifat kedewaan.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Astadasa Parwa

Adapun nilai-nilai yang terkandung di dalam teks Astadasaparwa diantaranya adalah: Nilai ajaran dharma, nilai kesetiaan, nilai pendidikan dan nilai yajna (korban suci). Nilai-nilai ini kiranya ada manfaatnya untuk direnungkan dalam kehidupan dewasa ini.

Pertama, Nilai Dharma (kebenaran hakiki) ,
inti pokok cerita Mahabharata adalah konflik (perang) antara saudara sepupu (Pandawa melawan seratus Korawa) keturunan Bharata. Oleh karena itu Mahabharata disebut juga Maha-bharatayuddha. Konflik antara Dharma (kebenaran/kebajikan) yang diperankan oeh Panca Pandawa) dengan Adharma (kejahatan/kebatilan ) yang diperankan oleh Seratus Korawa. Dharma merupakan kebajikan tertinggi yang senantiasa diketengahkan dalam cerita Mahabharata. Dalam setiap gerak tokoh Pandawa lima, dharma senantiasa menemaninya. Setiap hal yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan, menyenangkan hati diri sendiri, sesama manusia maupun mahluk lain, inilah yang pertama dan utama Kebenaran itu sama dengan sebatang pohon subur yang menghasilkan buah yang semakin lama semakin banyak jika kita terus memupuknya. Panca Pandawa dalam menegakkan dharma, pada setiap langkahnya selalu mendapat ujian berat, memuncak pada perang Bharatayuddha. Bagi siapa saja yang berlindung pada Dharma, Tuhan akan melindunginya dan memberikan kemenangan serta kebahagiaan. Sebagaimana yang dilakukan oleh pandawa lima, berlindung di bawah kaki Krsna sebagai awatara Tuhan. " Satyam ewa jayate " (hanya kebenaran yang menang).

Kedua, nilai kesetiaan (satya) ,
cerita Mahabharata mengandung lima nilai kesetiaan (satya) yang diwakili oleh Yudhistira sulung pandawa. Kelima nilai kesetiaan itu adalah: Pertama, satya wacana artinya setia atau jujur dalam berkata-kata, tidak berdusta, tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Kedua, satya hredaya, artinya setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tak terombang-ambing, dalam menegakkan kebenaran. Ketiga, satya laksana, artinya setia dan jujur mengakui dan bertanggung jawab terhadap apa yang pernah diperbuat. Keempat, satya mitra, artinya setia kepada teman/sahabat. Kelima, satya semaya, artinya setia kepada janji. Nilai kesetiaan/satya sesungguhnya merupakan media penyucian pikiran. Orang yang sering tidak jujur kecerdasannya diracuni oleh virus ketidakjujuran. Ketidakjujuran menyebabkan pikiran lemah dan dapat diombang-ambing oleh gerakan panca indria. Orang yang tidak jujur sulit mendapat kepercayaan dari lingkungannya dan Tuhan pun tidak merestui.

Ketiga, Nilai pendidikan,
Sistem Pendidikan yang di terapkan dalam cerita Mahabharata lebih menekankan pada penguasaan satu bidang keilmuan yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa. Artinya seorang guru dituntut memiliki kepekaan untuk mengetahui bakat dan kemampuan masing-masing siswanya. Sistem ini diterapkan oleh Guru Drona, Bima yang memiliki tubuh kekar dan kuat bidang keahliannya memainkan senjata gada, Arjuna mempunyai bakat di bidang senjata panah, dididik menjadi ahli panah.Untuk menjadi seorang ahli dan mumpuni di bidangnya masing-masing, maka faktor disiplin dan kerja keras menjadi kata kunci dalam proses belajar mengajar.

Keempat, Nilai yajna (koban suci dan keiklasan) ,
bermacam-macam yajna dijelaskan dalam cerita Mahaharata, ada yajna berbentuk benda, yajna dengan tapa, yoga, yajna mempelajari kitab suci ,yajna ilmu pengetahuan, yajna untuk kebahagiaan orang tua. Korban suci dan keiklasan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud tidak mementingkan diri sendiri dan menggalang kebahagiaan bersama adalah pelaksanaan ajaran dharma yang tertinggi (yajnam sanatanam).

Kegiatan upacara agama dan dharma sadhana lainnya sesungguhnya adalah usaha peningkatan kesucian diri. Kitab Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan.:
"Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran (satya), atma disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu pengetahuan (spiritual)"

Nilai-nilai ajaran dalam cerita Mahabharata kiranya masih relevan digunakan sebagai pedoman untuk menuntun hidup menuju ke jalan yang sesuai dengan Veda. Oleh karena itu mempelajari kita suci Veda, terlebih dahulu harus memahami dan menguasai Itihasa dan Purana (Mahabharata dan Ramayana), seperti yang disebutkan dalam kitab Sarasamuscaya sloka 49 sebagai berikut :
"Weda itu hendaknya dipelajari dengan sempurna, dengan jalan mempelajari itihasa dan purana, sebab Weda itu merasa takut akan orang-orang yang sedikit pengetahuannya"

Makna Filosofis Astadasaparwa (Mahabharata)
Tubuh manusia memiliki 10 organ (indriya), yaitu lima organ sensorik ( jinanendriyas) dan lima organ motorik ( karmendriyas), dan sebuah "antahkarana" atau organ/indera internal. Sedangkan organ sensorik dan motorikadalah organ eksternal (bahihkarana). Antahkarana berhubungan langsung dengan tubuh fisik. Antahkarana merupakan bagian intrinsik dari pikiran itu sendiri. Berkat kerja dari bagian inilah pikiran kita bisa merasakan perut yang kosong,dan kemudian merasa lapar. Begitu perut kosong, pikiran mulai mencari makanan, dan hal ini diekspresikan melalui aksi fisik. Jadi terdapat dua bagian, yang satu merupakan bagian intrinsik pikiran, dan satu bagian lagi adalah kesepuluh organ.

Yang mendorong terjadinya aktivitas adalah antahkarana. Antahkarana tersusun atas pikiran sadar (conscious) dan bawah sadar (subconscoius). Maka jika antahkarana menginginkan sesuatu, maka tubuh fisiklah yang bekerja menurut keinginan tersebut.

Dalam Sanskrit dikenal enam arah utama yang dinamakan "disha" atau "pradisha": Utara, Selatan, Timur, Barat, Atas, dan Bawah. Juga terdapat empat sudut yang dinamakan "anudisha": Barat Laut (iishana), Barat Daya (agni), Tenggara (vayu) dan Timur Laut (naerta). Jadi seluruhnya ada sepuluh.

Pikiran sesungguhnya buta. Dengan pertolongan "wiweka" (conscience/hati nurani) maka pikiran bisa melihat dan memvisualisasikan sesuatu. Jadi pikiran dapat dilambangkan dengan Dhritarastra (Seorang raja yg buta dalam kisah Mahabharata), dan daya fisik, yaitu kesepuluh organ dapat bekerja dalam sepuluh arah secara simultan. Jadi pikiran memiliki 10 organ X 10 arah = 100 ekpresi eksternal. Dengan kata lain, ke-100 putra Dhritasastra melambangkan seratus ekspresi eksternal ini.

Bagaimana dengan Pandawa?

Mereka melambangkan lima faktor fundamental dalam struktur manusia.
  1. Sadewa/Sahadeva melambangkan faktor padat, mereprestasikan cakra muladhara (kemampuan untuk menjawab segala sesuatu).
  2. Nakula pada cakra svadhisthana. Nakula berarti "air yang mengalir tanpa memiliki batas". "Na" berarti "Tidak", dan "kula" bararti "batas", melambangkan faktor cair.
  3. Arjuna, melambangkan energi atau daya, faktor cahaya pada cakra manipura, selalu berjuang untuk mempertahankan keseimbangan.
  4. Bhima, putra Pandu, adalah faktor udara "vayu", terdapat pada cakra anahata.
  5. Terakhir adalah Yudhisthira, pada cakra vishuddha, dimana terjadi peralihan dari sifat materi ke sifat eterik.
Jadi pada pertempuran antara materialis dan spiritualis, antara materi kasar dan materi halus, Yudhisthira tetap tak terpengaruh."Yudhi sthirah Yudhisthirah" artinya "Orang yang tetap tenang/diam saat pertempuran dinamakan Yudhisthira".

Krsna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalinii (Keagungan yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan Pandawa, maka Jiiva (unit diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. Pandawa menyelamatkan jiiva dan membawanya ke perlindungan Krsna.

Sanjaya adalah menteri-nya Dhritarastra. Sanjaya adalah wiweka(Nalar/pertimbangan). Dhritarastra bertanya kepada Sanjaya, karena ia sendiri tidak bisa melihatnya, "Oh Sanjaya, katakan padaku, dalam perang Kuruksetra dan Dharmaksetra, bagaimana keadaan pihak kita?"

Keseratus putra Dhritarastra, pikiran yang buta, mencoba menguasai jiiva, yang diselamatkan oleh Pandawa melalui pertempuran. Akhirnya kemenangan ada di pihak Pandawa, mereka membawa jiiva ke perlindungan Krsna. Inilah arti filosofis dari Mahabharata.




Kuruksetra adalah dunia tempat melakukan aksi, dunia eksternal, yang menuntut kita terus bekerja. Bekerja adalah perintah. "Kuru" artinya "bekerja", dan ksetra artinya "medan", Dharmaksetra adalah dunia psikis internal. Disini Pandawa mendominasi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar