Selasa, 29 Oktober 2013

 
 KURANGNYA MINAT MAHASISWA BERORGANISASI
Fenomena mahalnya biaya pendidikan, menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Sehingga segala energi dikerahkan untuk membawa gelar sarjana/diploma sesegera mungkin. Tak jarang trend ‘study oriented’ mewabah di kalangan mahasiswa.

Sabtu, 05 Oktober 2013




Meyakini punarbhawa Melalui Pratyaksa Pramana
(pengetahuan/Pengalaman Secara Langsung)
Oleh:Nikadek Elfrida Putri
Om swastyastu
Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini. Misalnya menyaksikan atau melihat dengan mata kepala sendiri, kita menjadi tahu dan yakin terhadap suatu benda atau kejadian yang kita amati. Untuk dapat mengetahui serta merasakan adanya Sang Hyang Widhi Wasa dengan pengamatan langsung haruslah didasarkan atas kesucian batin yang tinggi dan kepekaan intuisi yang mekar dengan pelaksanaan yoga samadhi yang sempurna. Dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26 disebutkan: Pratyaksanumanasca krtan tad wacanagamah pramananitriwidamproktam tat samyajnanam uttamam. Ikang sang kahanan dening pramana telu, ngaranya, pratyaksanumanagama.
Adapun orang yang dikatakan memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan yang disebut Pratyaksa, Anumana, dan Agama.
Pratyaksa ngaranya katon kagamel. Anumana ngaranya kadyangganing anon kukus ring kadohan, yata manganuhingganing apuy, yeka Anumana ngaranya.
Pratyaksa namanya (karena) terlihat (dan) terpegang. Anumana sebutannya sebagai melihat asap di tempat jauh, untuk membuktikan kepastian (adanya) api, itulah disebut Anumana.
Banyak sekali pertanyaan serta hujatan yang di tujukan untuk umat hindu mengenai ajaran yang menjelaskan tentang kelahiran yang berulang-ulang yang secara umum biasa di sebut reinkarnasi atau dalam umat hindu sering disebut dengan punarbhawa.
Dalam hal ini penulis ingin menjelaskan tentang punarbhawa yang sebenarnya sulit dibuktikan dengan teori dari itu penulis mengaitkan sebuah cerita nyata yang dapat menjelaskan bahwa punarbhawa memang terjadi.  
Lalu bagaimana dengan Punarbhawa? Apakah bisa dibuktikan dengan Pratyaksa Pramana?
Kata punarbhawa terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu "punar" (lagi) dan "bhawa" (menjelma). Jadi Punarbhawa ialah keyakinan terhadap kelahiran yang berulang- ulang yang disebut juga penitisan atau samsara. Dalam Pustaka suci Weda tersebut dinyatakan bahwa penjelmaan jiwatman berulang- ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut samsara. Kelahirannya yang berulang- ulang ini membawa akibat suka dan duka. Punarbhawa atau samsara terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh Wisaya dan Awidya sehingga kematiannya akan diikuti oleh kelahiran kembali.
Dalam Bhagavad-Gita Sang Krisna berkata:
Wahai Arjuna, kamu dan Aku telah lahir berulang- ulang sebelum ini, hanya Aku yang tahu sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran.


Penelitian Ilmiah Reinkarnasi Kehidupan
Reinkarnasi memiliki hubungan yang erat dengan Karma yang mana keduanya merupakan suatu proses yang terjalin erat satu sama lain. Reinkarnasi dapat dikatakan sebagai kesimpulan atas semua karma yang telah didapat dalam suatu masa kehidupan. Baik buruknya karma yang dimiliki seseorang akan menentukan tingkat kehidupannya pada reinkarnasi berikutnya.
Dengan keyakinan terhadap reinkarnasi ini dan hubungannya dengan karma, maka umat harus sadar bahwa kehidupan sekarang ini merupakan kesempatan yang baik untuk memperbaiki diri demi kehidupan yang lebih baik pada masa datang.

Rabu, 02 Oktober 2013

DHARMA YATRA MAHASISWA STAH LAMPUNG ANGKATAN 2011

"MELALUI DHARMA YATRA KITA TINGKATKAN 

SRADDHA DAN BHAKTI DENGAN MENGAMALKAN AJARAN

TRI HITA KARANA

 




Minggu, 29 September 2013





 



ITIHASA
1.   SANTI PARVA
2.   ASVAMEDHA PARVA

Di Susun Oleh:
1.    Ketut Catur Restu
2.    Nengah Pasek
3.    Ni Dewi Ratih
4.    Ni Kadek Elfrida Putri
 

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU LAMPUNG
Tahun Ajaran 2011-2012



Selasa, 24 September 2013



MENGAPA WAHYU SUCI BHAGAVADGITA DISAMPAIKAN KEPADA ARJUNA ????










Padmasana
Mengingat rekan-rekan sedharma di Bali dan di luar Bali banyak yang membangun tempat sembahyang atau Pura dengan pelinggih utama berupa Padmasana, perlu kiranya kita mempelajari seluk beluk Padmasana agar tujuan membangun simbol atau “Niyasa” sebagai objek konsentrasi memuja Hyang Widhi dapat tercapai dengan baik.
  1. Arti Padmasana
  2. Hiasan Padmasana
  3. Bentuk-Bentuk Padmasana
  4. Letak Padmasana
  5. Memilih Lokasi Padmasana
  6. Pembagian Halaman Padmasana
  7. Asta Kosala dan Asta Bumi
  8. Hulu-Teben
  9. Bentuk Halaman Padmasana
  10. Pemedal Padmasana
  11. Jarak Antar Pelinggih
  12. Pelinggih (Stana) yang Dibangun
  13. Upacara Ngenteg Linggih
1. ARTI PADMASANA
Padmasana berasal dari Bahasa Kawi, menurut Kamus Kawi-Indonesia yang disusun oleh Prof. Drs. S. Wojowasito (Penerbit CV Pengarang, Malang, 1977) terdiri dari dua kata yaitu: “Padma” artinya bunga teratai, atau bathin, atau pusat. “Sana” artinya sikap duduk, atau tuntunan, atau nasehat, atau perintah.





profil

nikadek elfrida putri
26 februari 1993